Loading

Kopdar Investarian 2: Merencanakan Tujuan Investasi dengan Reksadana

Kopdar Investarian Semarang 1 yang diadakan bulan September lalu, bisa dibilang menjadi titik insyaf saya untuk mulai melek investasi. Keinsyafan ini dimulai dengan mengurangi gaya hidup konsumtif, meski kadang-kadang masih tergoda dengan yang namanya diskon. Hehehe.. Tapi ngeyakinin diri lagi sih tiap mau beli sesuatu meski diskon, emang lagi butuh banget atau enggak, kalau enggak ya udah skip. Jadi kalau kayak gini, sebenarnya belum bener-bener insyaf ya? Haha.. Maklum, perihal diskon ini, jiwa emak-emaknya nggak bisa bohong. Ya nggak sih, Mak? *ngeles

Berbekal pengantar dari Pak Legowo  Kusumonegoro selaku Presiden Direktur PT. Manulife Asset Management Indoneia (MAMI) saat itu, saya dan suami berdiskusi banyak hal seputar perencanaan keuangan. Lalu kami mulai belajar dengan mengikuti Sekolah Pasar Modal dari Bursa Efek Indonesia sebagai dasar. Tapi rasanya masih belum cukup, karena yang namanya ilmu, harus terus diasah, harus terus dipelajari. Setuju?


Alhamdulillah, hari Sabtu lalu (11/01) di Verve Bistro & Coffee Bar Semarang, saya mendapat ilmu baru lagi tentang keuangan dan investasi dengan ikutan kelas kopdar Investarian yang kedua. Di awal acara, kami para blogger juga berdiskusi santai dengan blogger lain seputar blog & socmed, ada Mbak Nia dan Mbak Uniek yang ikut berbagi cerita seputar pengalaman mereka.

Sebelumnya di Kopdar Investarian 1, lebih banyak membahas tentang pemahaman dasar reksadana Manulife. So, di kopdar kali ini kami mendapat tantangan dengan menjawab kuis menti untuk me-review lagi materi di kopdar pertama. Alhamdulillah, saya ada di peringkat kedua setelah Mbak Dedew yang lebih gercep, dan posisi ketiga disusul oleh Mbak Untari :D

(Foto: Dikoko Production)

Pak Legowo selalu mengingatkan kami untuk rajin berinvestasi, selain untuk menambah asset kekayaan, juga untuk melawan inflasi. Karena, yang inflasi lakukan itu jahat..

Inflasi, Si Silent Robber

Inflasi menurut data pemerintah yang saya kutip dari instagram Jouska, year on year di 3,13%. Kecil atau besar? Kalau dilihat dari presentasenya sih nggak terlalu besar. Tapi gimana dengan inflasi gaya hidup? Termasuk sekolah dan kesehatan?

Yang saya rasain sekarang, biaya pendidikan luar biasa mahal. Jangankan zaman saya SD dulu di tahun 90an, ibu-ibu yang sekarang punya anak SD dan SMP saja biaya pendidikannya sudah jauh berbeda antara kakak dan adik. Ya, kan? Belum lagi biaya kesehatan. Alamak, saya ingat betul saat operasi patah tulang di tahun 2010, harga kamar kelas VIP dulu kayaknya sama dengan harga kelas 1 atau 2 di era sekarang. Duh.. Semoga kita selalu diberi kesehatan ya.

Emang sih, selalu ada pilihan, kayak mau sekolah di negeri atau swasta, swastanya mau di swasta biasa atau international school, beda pasti biayanya. Trus mau belanja groceries di pasar atau supermarket, mau beli sepatu atau tas dengan brand internasional atau lokal, dll. Kalau udah kayak gini apa yang bisa kita lakuin kalau beberapa aspek gaya hidup gak mau diubah?

(Sumber: CNN Indonesia)

Pusing ya, Mak? Iya. Apalagi kalau sudah tau fakta-fakta kayak gini. Trus jadi muncul pertanyaan kan, what should we do? Mari belajar!

Mengenal Pasar Modal

Pasar modal adalah pasar yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana jangka panjang atau modal dengan pihak yang membutuhkan sarana investasi atau yang memiliki modal. Produk investasi di pasar modal adalah produk keuangan seperti: saham, obligasi, reksadana dan produk turunan lainnya.

  • Saham: bukti kepemilikan seseorang atau badan atas suatu perusahaan yang merupakan klaim atas penghasilan dan kekayaan perusahaan. Keuntungan dalam saham bisa berupa capital gain ataupun dividen beruapa uang maupun saham.
  • Obligasi: surat utang jangka menengah - panjang yang bisa dipindahtangankan, yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa kupon/bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang di waktu yang sudah ditentukan pada pihak pembeli obligasi. Di Indonesia, ada juga obligasi syariah atau yang dikenal dengan sukuk.
  • Reksadana: program investasi yang menggabungkan modal dari banyak investor, dan berinvestasi pada beragam instrumen, serta dikelola secara profesional oleh manajer investasi.

(Sumber: investorplace)

Nah, karena instrumen di reksadana ini ada beragam, kita bisa pilih sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi. Untuk mengetahuinya, kita bisa cari tahu dengan menjawab beberapa pertanyaan di kalkulator profil risiko.

Pengenalan seputar reksadana dan bagaimana proses jual belinya sudah disampaikan di kopdar investarian 1. Bisa dibaca di link berikut ya: Kopdar Investarian 1: Mengenal Reksadana

Untuk jenis reksadana pun ada beragam, yaitu: reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Untuk kopdar kali ini, membahas tentang reksadana pendapatan tetap yang cocok dijadikan investasi jangka menengah.

Tentang Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap ini salah satunya diambil dari obligasi korporasi (corporate bonds) yang tidak semua investor ritel memiliki akses di dalamnya. Dikombinasikan dengan obligasi pemerintah yang menawarkan fluktuasi lebih terjaga. Jadi beda ya, dengan Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Savings Bond Ritel (SBR) karena kedua instrumen itu termasuk obligasi negara yang dikeluarkan pemerintah untuk investor ritel.

Untuk jenis reksadana ini, potensi imbal hasil masih di atas deposito, mudah beli atau dicairin kapan pun, dan kita bisa menginvestasikan dana minimal 10ribu saja.

(Sumber: twitter @ManulifeRD)

Memang yang namanya investasi, ada risikonya. Tinggal kita termasuk kategori yang siap dengan risiko tinggi, sedang atau rendah? Jika termasuk investor yang siap dengan risiko rendah, reksadana pasar uang lebih cocok, namun dengan bagi hasil yang juga lebih rendah. Nah, kalau berani ambil risiko lebih, bisa masuk di reksadana pendapatan tetap.

Trus, gimana kita bisa tahu tujuan investasi kita lebih cocok dialokasikan pada jenis reksadana tertentu?

Menyusun Investment Planning

Setiap orang pasti punya keinginan dan tujuan masing - masing dalam berinvestasi. Ada yang untuk menyiapkan dana darurat, dana pensiun, dana kesehatan, biaya sekolah, ibadah haji dan umroh, jalan - jalan, dsb. Tapi pertanyaannya, kapan dan berapa lama dana harus terkumpul? Berapa jumlah dana yang harus kita investasikan per bulan untuk mencapai tujuan?

Ini sesi yang paling menarik karena kami diajak untuk berpikir. Ya, benar - benar berpikir, soalnya jadi ikut membayangkan segala kebutuhan dan keinginan, bahkan masih kepikiran sampe pulang ke rumah lho. Hehehe.. Beberapa blogger juga diajak maju untuk mengisi tabel perencanaan yang sudah disediakan. Seperti ini tabelnya:


Saya juga sempat nanya, sebetulnya enak mana sih, menyisihkan dana sekian persen dari total penghasilan, atau menyusun investment planning? Menurut Bu Eveline dari Manulife Asset Management, better menyusun investment plannning, karena kalau hanya menyisihkan sekian persen seperti nggak ada tujuan, ngalir doang.

Ya, betul sih. Supaya enggak nggrambyang, memang sebaiknya ditulis secara lebih rinci mengenai rencana investasi. Kita pun jadi tahu, jenis reksadana mana yang cocok untuk setiap tujuan investasi.


Well, selamat menyusun rencana investasi ya! Bisa juga pakai tabel investment planning di atas. Ingat, jangan sampai hanya tergiur hasil atau profit tinggi tapi mengabaikan risikonya karena potensi imbal hasil selalu berbanding lurus dengan risikonya alias high risk, high return. Tapi saya percaya, sebagian risiko bisa diminimalisir dengan belajar, belajar dan belajar. Dan sekali lagi, semoga kita selalu dijauhkan dari jebakan investasi bodong :)

14 comments:

  1. Tulisan sofi menarik sekali, sering2 ya nulis ttg financial planning gini ya, emak2 butuh banget penyegaran2 macam eneh. Biar control kalomliet diskonan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Mbak Putri paling rajin baca-baca tulisanku hihi.. Semoga bermanfaat ya, Mbak. Yass.. Semangat investasi!

      Delete
  2. Mba monmaap ai mengotori kolom komen dengan komen yg nggak penting.

    Cuman mau curhat, ai mau merencanakan hidup bersamanya dulu, baru sama-sama mikir perencanaan keuangan rumah tangga bersama. Eeyyaaaa, kabooorr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Loh, justru rencana keuangannya bisa disusun dari sekarang, jadi setelah bersamanya, tinggal sodorin aja, "ini loh mas, setiap bulan kita harus investasi sekian, biaya jajanku sekian, biaya nyalonku sekian". Biaya nyalon wajib masuk lah, demi jadi ibu pejabat yang paripurna hahaha

      Delete
  3. Biaya pendidikan makin kesini makin mahalll. Perlu banget buat nyusun perencanaan dana dari sekarang. Supaya bisa siap2 hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuuuuu.. Dana pendidikan harus dicicil dari sekarang kayaknya. Soalnya kalo denger curhatan temen-temen yang anaknya mau sekolah tuh ikutan pusing deh :(

      Delete
  4. seneng sekarang banyak muda mudi yang melek investasi. Semangat!

    ReplyDelete
  5. Moga makin banyak orang yang sadar akan pentingnya investasi. Aku juga makin tercerahkan sih. Hihi.

    ReplyDelete
  6. Enak dibacanya artikel Sofi, serenyah suaranya pas siaran, uhuk..kita golongan jempol lincah ya kemarin itu haha..pengen disiplin RD an lagi deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awwwww.. Terharu aku tu dikasih testimoni sama penulis hits hohoho.. Nanti kalo ada kuis lagi, kita balapan lagi :p

      Delete
  7. Jadinya enak pilih Reksadana aja ya dibandingkan deposito, apalagi nabung. Saldo tabungan berkurang gak terasa karena kita nggak melakukan pencatatan, hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mbak.. kalo di rekening tabungan biasa masih ada potongan admin dan pajak :(

      Delete
  8. Mbak Sovi ceritanya enak banget,
    Padahal topik ini susah sih, susah karena mraktekinnya banyak godaan.
    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iiiihh.. iyaa beneeeer.. nulisnya bisa santai, tapi praktiknya juga gak santai hahaha.. masih harus belajar banyak nih supaya tujuan investasinya tercapai :)

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)