Dukung Anak Tumbuh Bahagia dengan Grow Happy Parenting

Dari awal menjadi penyiar radio, saya sudah membawakan program seputar rumah tangga dan parenting. Padahal waktu itu usia saya baru 20 tahun, masih gadis nan kinyis-kinyis. Hehe. Tapi justru dari program inilah saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat karena sering bertemu berbagai narasumber dari praktisi kesehatan sampai psikolog.

Kemudian saya belajar lebih banyak seputar pola asuh dari buku, internet, sampai majalah yang membahas seputar ibu dan anak, bukan lagi majalah remaja yang membahas fashion atau gosip artis-artis ternama seperti teman sebaya lainnya. Lha ngapain kok gitu? Ya karena saya tau, ilmunya masih cethek, wong waktu itu masih jomblo. Haha. Padahal saya harus mampu mengimbangi materi supaya wawancara dengan narasumber bisa lebih hidup.

grow happy parenting
sumber: www.kidssmilesatlanta.com

Sekarang, di usia pernikahan kami yang akan memasuki 3 tahun, Allah masih ingin kami merayu-Nya untuk mendapatkan buah hati. Di masa penantian ini, saya dan suami masih terus belajar dan berdiskusi seputar pola asuh dan menyatukan visi misi dalam membangun garis-garis besar pengasuhan anak.

Makanya, waktu dapat kesempatan ikutan workshop "Grow Happy Parenting: Happy from the Inside Out" bareng Nestlé Lactogrow di Valle Pizza Resto, Rabu (14/08), saya semangat banget! Apalagi dihadirkan pakar untuk membagikan ilmu yang bisa membantu orang tua dalam mendukung anak tumbuh bahagia. Mulai dari pendekatan psikologis sampai cara memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

What Is Happiness?


Sesi pertama workshop diisi oleh Pramudita Sarastri, Brand Executive Nestlé Lactogrow dengan mengajukan pertanyaan, "apa itu happiness?". Seketika otak saya sibuk mencari-cari hal positif yang bisa bikin saya happy. Hmm.. Kalau jawaban saya sederhana, bisa kumpul sama suami. Maklum, LDR. Hehe.

Pramudita Sarastri, Brand Executive Nestlé Lactogrow
Pramudita Sarastri, Brand Executive Nestlé Lactogrow

Selanjutnya menurut Mbak Dita, anak yang happy adalah fondasi untuk masa depan. Makanya kita perlu menerapkan pola asuh grow happy yang terdiri dari tiga hal, yaitu keterlibatan orang tua, stimulasi, dan nutrisi. Yap, grow happy dimulai dari pilihan yang tepat dalam memberikan nutrisi untuk si kecil.

"A happy childhood is a foundation for future happiness"

Pencernaan Sehat Agar Anak Bahagia dan Pintar


Untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memastikan pencernaannya dalam kondisi sehat. Hal ini disampaikan oleh Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K) dengan cara yang menarik karena peserta diajak untuk menjawab kuis di menti.com untuk mengetahui sejauh mana peserta tau seputar kesehatan pencernaan.
"Semua penyakit dimulai dari dalam usus. - Hippocrates"
Ah iya, saya jadi ingat, beberapa waktu lalu saya sempat mengalami konstipasi atau susah BAB sampai beberapa hari. Beneran bikin perut nggak nyaman dan mood pun jadi sedikit kacau karena jadi susah tidur dan mudah tersinggung. Bayangkan gimana kalau hal ini dialami oleh anak-anak?

Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K)
Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K)

Kalau anak sakit, biasanya semangat belajar akan menurun. Mereka jadi kehilangan waktu untuk belajar, sekolah dan kehilangan kesempatan emas untuk bertumbuh dan berkembang dengan optimal. Makanya, anak-anak perlu mengkonsumsi makanan-makanan yang sehat dan baik untuk mendukung pertumbuhannya. Salah satunya dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung probiotik seperti tempe dan yoghurt.

Probiotik adalah suatu mikro organisme hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang sesuai dan mencukupi akan memberikan manfaat untuk kesehatan. Dari sekian banyak jenis probiotik yang bermanfaat, Lactobacillus Reuteri lah yang telah teruji secara klinis aman dan bermanfaat bagi tubuh. Selain bisa mengatasi konstipasi, kolik pada bayi, dan mempersingkat durasi diare, Lactobacillus Reuteri juga menghasilkan Vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan bermanfaat untuk perkembangan otak.

Oh ya, probiotik juga berperan dalam mengubah suasana hati menjadi lebih baik lho. Tapi komposisinya harus tepat, yaitu 85% berisi bakteri baik. Hal ini sudah dibuktikan melalui penelitian oleh para ahli. Jadi meski perut dan otak letaknya berjauhan, sesungguhnya mereka sangat berkaitan.

happynutri


Kalau kondisi pencernaan aman dan sehat dengan dukungan dari makanan bergizi seimbang, selanjutnya sebagai orang tua kita perlu mendukung mereka agar bertumbuh dan berkembang dengan bahagia.

Why Growing A Happy Child Is Important?


Setiap dari kita, pasti pernah mengalami masa kecil. Entah dilalui dengan bahagia, atau pun trauma. Apa yang terjadi pada kita di usia dewasa ini, adalah manifestasi dari apa yang kita alami di masa kecil. Produk dari orang tua seperti apa sih kita? Orang tua yang bahagia dan murah senyum? Atau justru orang tua pemarah dan selalu mengekang? Cukup jawab dalam hati aja ya :)

Tapi sekarang coba kita balik. Ketika saat ini menjadi orang tua, orang tua seperti apa sih kita? Apakah orang tua yang bisa menghebatkan anak di masa depan? Atau kah sebaliknya? Kalau yang ini sih justru bikin merenung panjaaang.

narasumber workshop Grow Happy Parenting
narasumber workshop Grow Happy Parenting

Begitulah Psikolog Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC atau yang biasa disapa Mbak Lizzie, mengawali sesi nya dengan penuh perenungan di batin saya. Hahaha. Tapi beliau langsung menjawab kegelisahan ini dengan meminta kami melatih "happiness". Caranya dengan menyebutkan hal-hal yang patut disyukuri dalam seminggu ini. Eh, ternyata saya bisa menyebutkan paling banyak hingga 25 hal. Kok bisa sih? Soalnya habis ketemu suami. Hihi.

Kenapa hal ini perlu dilakukan? Karena kita sebagai orang tua atau calon orang tua pun perlu belajar grow happy bersama-sama. Yes, ketika orang tua happy, mendidik anak pun akan happy, jadi anak-anak akan bertumbuh dengan happy juga. Nah, kalau anak grow happy, orang tua pun juga akan happy. Jadi seperti sebuah lingkaran yang saling berhubungan kan?

Gimana caranya membesarkan anak agar tumbuh bahagia? 


Ini beberapa tips dari Mbak Lizzie:

1. Makan makanan bergizi tepat waktu

Ini penting! Makanya di awal disampaikan seputar nutrisi yang baik untuk anak. Jadi kondisi kesehatan tubuh berkaitan dengan kondisi psikologis. Trauma memang bisa menghasilkan kesehatan buruk, tapi kesehatan yang buruk juga berpengaruh dengan kondisi emosi.

sumber: growhappy.co.id

2. Waktu bermain dan eksplorasi

Dear parents, coba ingat-ingat kapan terakhir kali main di luar rumah sama anak-anak? Sekedar lari-larian, main petak umpet, sepedaan atau mungkin berkebun bareng? Ada manfaat luar biasa yang bisa didapat oleh anak lho, yaitu: meningkatkan kebahagiaan, baik untuk pertumbuhan fisik dan mental dan meningkatkan kemampuan kognitif mereka.

So, kalau dirasa sudah terlalu lama sibuk dengan kerjaan dan jarang main sama anak, yuk segera diagendakan buat main bareng sama mereka.

3. Ekspresi emosi positif

Hal ini bisa diajarkan kepada anak dengan memberikan dan mengungkapkan apa yang kita syukuri terhadap dunia. Misalnya dengan cara bertanya, "ada kabar baik apa hari ini?". Dari situ otak akan terstimulus untuk mencari-cari hal positif yang sudah dialami. Efeknya, bisa meningkatkan energi mereka dan kesejahteraan, kesehatan serta kebahagiaan mereka ketika dewasa.

sumber: growhappy.co.id

4. Cukupi waktu tidur

Kita sebagai orang dewasa aja bisa cranky dan nggak mood kalau kurang tidur, apalagi anak-anak. Selain memang bermanfaat untuk buah hati, anak yang tidur cukup bisa membuat orang tua lebih bahagia dan merasa tentram. Bye bye drama karena ngantuk.

5. Berikan cinta tanpa syarat

Yang ini sebenarnya nggak perlu dijelaskan panjang lebar karena saya yakin setiap orang tua pasti mencintai anaknya tanpa syarat. Semoga :)

6. Antusias saat mendengar (active listening)

Pernah merasa sebel kalau dicuekin pas kita cerita sesuatu? Bayangkan gimana rasanya kalau anak sedang antusias cerita tapi kita malah iya iya doang tanpa memperhatikan betul apa yang mereka ceritakan? Betapa patah hati mereka, Bu, Pak. Mulai sekarang, yuk belajar untuk mendengarkan cerita mereka dengan antusias.


Setelah pemaparan materi selesai, kami diminta untuk praktik membuat menu sehat dalam satu hari dengan menggunakan playdough. Dan.. Tim saya menang! Horaayy! Mau tau nggak kami bikin apa? Ada pada gambar di bawah ini ya. Mirip nggak kira-kira sama aslinya? Hahaha.


Alhamdulillah, dapat ilmu bergizi sebagai bekal untuk membersamai anak-anak kelak. Ya, semakin saya belajar, semakin saya mencintai dunia anak-anak. Saat ini ngumpulin ilmu dulu, baru praktik kemudian. Ya, kan? Mohon doanya ya, teman-teman :)

rame-rame bareng para emak blogger

1 comment:

  1. Duh bener banget, kita aja kesal ya kalau lagi cerita terus dipotong atau dicuekin,apalagi anak-anak, aku kayaknya masih khilaf kayak gitu kalau alde dan nai cerita huhu maafkan mamaaak..makasih artikelnya yang mencerahkan ya Soviii

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)