Loading

Memang Lidah Tak Bertulang

Memang lidah tak bertulang, tak berbekas kata - kata..
Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati..

Itu adalah sebait lirik lagu yang terkenal pada masanya. Sebait lirik, yang dulu sering ku dengar ketika bapak dan ibuk ku memutar kaset di sela-sela waktu kosongnya. Kala itu aku hanya bisa mendengar, memang lidah tak bertulang tanpa mengerti apa maknanya tapi kini aku sedang berusaha untuk memahami.

Aku memang tak tahu apa alasan jelas, mengapa  Tuhan menciptakan lidah tanpa tulang. Yang aku mengerti kini, betapa lidah manusia bisa membunuh saudaranya sendiri, betapa kata-kata bisa menghancurkan hati. 

Dalam sebuah film Bollywood berjudul Taare Zameen Par yang dibintangi oleh Aamir Khan, aku baru tahu bahwa Pulau Solomon punya cara sendiri untuk menumbangkan pohon ketika penduduk asli ingin bagian hutan untuk ditanami. Bukan dengan menebang, tetapi mereka bersama-sama mengelilingi pohon tersebut dan meneriakkan kata-kata kasar untuk menumbangkannya. Pada suatu hari, pohon menjadi layu dan kisut lalu pohon itu mati dengan sendirinya.

Bukankah itu mengerikan?

Bagaimana jika terjadi pada manusia?

Kadang, berucap memang terlalu mudah. Melihat pejabat yang melakukan kebaikan, kita bilang pencitraan. Melihat seorang kepala negara menangis, kita hujat habis-habisan. Tahu tetangga punya mobil baru, kita bilang selamat tapi dalam hati menghujat karena iri. Ah, betapa kejam lidah manusia.

Aku harus berkata jujur, bahwa aku termasuk gadis bawel yang banyak cakap, yah itu kata teman-teman lamaku. Tapi semenjak aku jadi penyiar, aku belajar banyak hal tentang berucap. Ketika on air, ucap kami sebagai penyiar adalah uang. Bagaimana jika aku salah menyebut produk ketika melakukan adlib-ing? Aku merugikan produk yang sudah beriklan di radio tempaku bekerja. Bagaimana jika aku memberikan informasi bohong kepada pendengar? Bukankah aku membohongi banyak orang?

Memang, akhir-akhir ini aku banyak memendam. Bukan menggunjingkan dalam hati, tetap menyimpannya dalam diam. Ada ketakutan tersendiri untuk mengatakan sesuatu, selain karena aku takut menyakiti hati orang lain, tapi aku juga tak ingin, apa yang ku ucap terdengar di telinga orang lain tetapi dengan bumbu yang berbeda. Itu menyakitkan. Aku tak tahu, apakah ini baik atau buruk. Aku hanya memilih diam untuk beberapa hal sebagai penenang hatiku sendiri. Mungkin yang lebih tepat adalah, aku sedang belajar untuk memilih mana yang memang harus dan perlu ku ucap dan mana yang tidak.

Aku termasuk tipe manusia pemikir. Ku perjelas lagi, maksudnya aku selalu memikirkan sesuatu yang terkadang berlebihan. Ini juga jadi alasan, mengapa aku lebih memilih untuk menyimpan dalam diam untuk beberapa hal, tentu tak semua, hanya beberapa. Karena jika aku berucap dan setelah itu aku merasa timbul sesuatu, betapa merasa bersalahnya aku pada orang itu.

Sebaliknya, aku juga sering memikirkan apa yang orang-orang ucap padaku. Yah, lagi-lagi aku berpikir berlebihan. Aku memikrikannya dalam-dalam, susah sekali untuk acuh. Mungkin jika aku tak kuat, bisa jadi aku bernasib seperti pohon-pohon yang ada di Pulau Solomon itu, layu - kisut - mati.

Ini hanya sebuah perenungan sederhana untuk hati yang terlalu merasa, dan isi kepala yang terlalu banyak memikir. Ya, aku.

Ucap kita memang tak meninggalkan jejak seperti sebuah tulisan, tapi jejak di hati manusia, siapa yang tahu?

1 comment:

  1. i feel same with you (terlalu byk merasa dan berfikir.. trus jd lebih berhati-hati dalam bertutur dan berucap khawatir berbekas dihati org.. )
    nice sharing!

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)