Loading

Setelah Usaha Ke-8

Sebagai manusia langka, eh bukan, maksud saya, sebagai manusia pemilik golongan darah yang langka yaitu AB, dari dulu saya ingin sekali menyumbangkan darah yang saya miliki.

Pertama kali usaha untuk donor saat saya duduk di bangku SMA, saat usia saya menjelang 18 tahun. Ternyata saya ditolak dengan alasan: berat badan saya kurang. Hahahaha. Tolong, jangan dibayangkan betapa kurusnya saya kala itu hingga tidak memenuhi standard minimal berat badan untuk donor, yaitu: 45 kg.

Usaha kedua dan ketiga, ketika saya duduk di bangku kuliah. Saat itu, berat badan saya mencukupi tetapi masih belum berhasil karena tekanan darah dan hemoglobin di bawah normal. Usaha keempat hingga selanjutnya, masih saja belum berhasil. Rata-rata karena tekanan darah rendah dan kadar hemoglobin kurang. Tekanan darah saya memang cenderung rendah, biasanya berada di angka 100/90. Pernah sampai 80/70. Karena untuk bisa mendonorkan darah, tekanan darah baik yaitu sistole 110-160 mmHg sedangkan diastole 70 - 100 mmHg. Untuk hemoglobin, baik perempuan maupun laki - laki minimal 12.5 gram. (sumber: bloodforlife)

Kantong darah. (sumber)

Sebelum melakukan donor, biasanya memang terdapat beberapa pemeriksaan seperti berat badan, golongan darah, tekanan darah dan juga hemoglobin. Biasanya petugas juga memberikan beberapa pertanyaan, seperti "kapan terakhir menstruasi?", "apakah sedang mengkonsumsi obat?", dan lain sebagainya.

Sampai lah pada percobaan ke-7, donor darah yang dilakukan di tempat saya bekerja. Saya mendapat pertanyaan "apakah sedang mengkonsumi obat?". Saya pun menjawab tidak tetapi saya menjelaskan kalau beberapa minggu lalu, saya melakukan operasi bedah tulang untuk mengambil 2 pen + 10 baut di kaki kanan saya. Runtuhlah harapan untuk mendonorkan darah karena menurut petugas, saya belum boleh melakukan donor darah sebelum 6 bulan pascaoperasi.

6 bulan? Huft.

Mungkin akan muncul pertanyaan, "kenapa enggak donor di PMI aja?". Jawaban saya, "nggak tahu". Hahaha. Rasanya lebih asyik aja. Banyak temannya.

Saya juga pernah mendapat pertanyaan, "mengapa kamu ingin sekali donor darah?". Jawaban saya sama seperti yang di atas, "nggak tahu". Tapi pernahkah kamu berada di sebuah ambulans dengan suara sirine yang menggelegar, dan kamu tidak bisa merasakan kakimu, dan kamu tahu bahwa ada banyak sekali darah yang mengucur dari bagian tubuhmu itu?

Detik demi detik, hari demi hari, saya tetap saja sendiri. Eh, bukan. Maksudnya saya masih belum boleh untuk donor karena belum genap 6 bulan. Nah, sampai akhirnya, ketika saya mengikuti Gathering Nasional 4 Instanusantara, Mas dokter Wimardy menyampaikan kalau akan ada donor darah. Semangat lah saya untuk donor darah. 

Setelah sarapan pagi, saya menuju salah satu ruangan di Noormans Hotel untuk melakukan donor. DEG-DEGAN. Saya takut ditolak. Lagi. Hiks. Jujur saya pesimis, karena kondisi saya saat itu sedang lelah dan kurang istirahat.

Kemudian mulailah saya mengikuti prosedur sebelum donor. Nimbang berat badan, oke cukup. Yang bikin saya agak kaget adalah ketika tekanan darah saya diukur, dan ternyata normal! Hahaha. 110/90.

"Tapi HB-nya dicek dulu, ya", kata si Bapak petugas yang agak meruntuhkan kebahagiaan saya.

Saat dicek, ternyata bagus! "Oke, mbak boleh donor", kata si Bapak.

OKE. JADI AKU BOLEH DONOR NIH? BENERAN?? IYA? BENERAN?

Abaikan mata panda saya yang kurang tidur.
 Kemudian makin deg-degan. Hahaha.

Bukan karena saya takut jarum, biasa aja. Semenjak saya sempat bersahabat dengan jarum ketika dalam perawatan medis selama 2 minggu saat patah tulang kala itu, saya merasa biasa saja dengan hal yang mungkin banyak orang takuti, yaitu: JARUM. Percaya deh sama saya, ditusuk jarum saat donor itu gak sakit kok! Kalo gak percaya, coba sendiri deh. Hehehe.

Tibalah giliran saya. Saya tiduran, memejamkan mata, mengucap basmallah, menata nawaitu dan tak lupa berdoa.

"Mbak, kok gak ada rasanya?", tanya saya pada si Mbak petugas yang ternyata adalah pendengar radio tempat saya bekerja.

"Mbak, kalo jadi petugas donor darah capek nggak?"
"Mbak, itu guntingnya kok begitu?"
"Mbak, yang itu kok digituin emang kenapa?"
"Mbak, itu yang sebelah duluan saya diambil darahnya, kok selesainya duluan dia?"

Ah.. Untungnya, si Mbak dengan sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaan si gadis dengan tingkat kepo yang luar biasa ini. Hehehe.

Sepertinya saya ketiduran.
Ketika tetes darah dari tubuh saya berpindah ke kantong yang sudah disiapkan, saya dibuat makgregap. Saya teringat Surat At-Tiin ayat 4: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya". Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baik penciptaan. Allah Maha Baik. Allah Maha Sempurna. Tapi, sudahkah saya menjaga penciptaan-Nya yang luar biasa ini dengan baik? Hiks.

Hal lain yang juga membuat saya makgregap saat itu, bahwa yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha karena kita tak akan pernah tahu, usaha mana yang akan membuahkan hasil. Seperti kata para motivator itu, tak ada usaha yang gagal, yang ada usaha yang belum berhasil.

Dan.. sekantong darah berhasil diambil dari tubuhku! untuk pertama kali! Minggu, 3 April 2016.


No comments

Post a Comment

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)