Loading

Pada Dua Mata

Perempuan itu tak mampu lagi melihat mata lelaki yang duduk di sampingnya. Mata yang biasanya penuh cinta. Mata tempat ia menahan keluh. Mata yang selalu membuatnya luluh. Ia tak sanggup melihat mata sang lelaki, bukan karena rasa itu tak lagi ada, tetapi karena mata itu seperti tak bernyawa. Kosong. Hampa.

"Kenapa?", tanya perempuan itu.

Sang lelaki masih tetap diam.

Senja adalah saat favorit mereka. Biasanya, mereka habiskan dengan tawa dan berdiskusi apa saja, kali ini tidak. Pertemuan itu tak seperti biasanya. Sang perempuan hanya mendapat suara angin dari keheningan yang mereka ciptakan. Sang perempuan hanya mampu melempar pandangan ke berbagai arah untuk menyembunyikan air yang bersiap mengalir dari sudut matanya.

"Dia cantik", kata perempuan itu dengan suara bergetar.

Sungguh. Bukan luka namanya jika tak menyakitkan.

Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu.
Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur. Aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.

Tiba-tiba, seperti ada Payung Teduh yang mendatangi tempat mereka duduk. Menyanyikan lagu Resah untuk memecah sepi. Sayangnya, lagu itu hanya terngiang di kepala sang perempuan, di kepala yang dipenuhi banyak pertanyaan.

Hening.

Mereka saling diam.

Kenangan dan masa lalu, dia bisa berubah menjadi apa saja. Dia bisa melebur menjadi harapan. Diputar ulang menjadi rindu. Diulang lagi menjadi derita. Hingga seperti tali yang mengikat di kaki, dan membuat jatuh ketika berlari. Atau seperti bom waktu, yang bisa meledak kapan saja.

Dan inilah waktunya. Bom itu telah meledak.

Meledak dan menghancurkan impian sang perempuan. Mengoyak hati yang telah ia kokohkan bertahun-bertahun. 

Ingatan sang lelaki habis untuk suatu kenangan di masa lalu.
Ya, sang lelaki masih saja mengingat perempuan di masa lalunya.

Aku menunggu dengan sabar di atas sini. Melayang-layang, tergoyang angin. Menantikan tubuh itu.

Di bahu sang lelaki yang tambun itu, akhirnya sang perempuan meletakkan kepalanya. Dia tak suka menyebutnya kekar, dia lebih suka menyebutnya tambun, berisi, gempal. Rasanya masih tetap sama, bahu itu masih menjadi tempat istimewa untuk sang perempuan.

Saat itulah, dia bisa merasakan rambut gondrong sang lelaki yang bergerak, kepala sang lelaki yang pelan-pelan menghadap ke bawah. Perempuan itu membuka matanya, melihat sang lelaki sedang meremas-remas tangannya sendiri, sesekali dikepalkan. Dia tahu, lelakinya sedang menahan sesuatu. Dia tahu itu.

"Sudah sekian tahun, tapi ia tak juga lupa. Lantas, apa artinya selama ini?", tanya sang perempuan dalam hati.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hingga sang perempuan mengubah posisi duduk, tak lagi menyandar bahunya. Dengan yakin, ia meraih tangan sang lelaki, menggenggamnya dengan kelembutan dan penuh cinta. Sang lelaki menoleh. Kini mereka duduk berhadapan, tapi mulutnya masih tetap terkunci. Tangan kanannya masih terus menggenggam, sementara tangan kirinya menyentuh pipi chubby sang lelaki, menelusuri hidung mancungnya, dan kembali lagi menyentuh pipinya. Mereka saling senyum. Getir.

Tangan mereka masih saling menggenggam. Mata mereka berpandangan. Ada desir-desir di hati mereka. Rasa yang sama seperti ketika awal berjumpa, bersalaman dan saling melempar pandang, untuk pertama kalinya.

Sang perempuan masih menggenggam erat tangan sang lelaki. Pandangannya tajam ke mata sang lelaki, dalam dan penuh cinta.

"Hei.. Mata kita ditempatkan di depan, bukan di belakang", ucapnya perlahan. Sang perempuan tersenyum.

Kemudian ia melepas genggaman tangannya. Berdiri dan berjalan menjauh dari sang lelaki yang masih terduduk di kursi. Meninggalkannya sendiri. Sementara sang lelaki masih terdiam, menyandarkan badannya yang melemah, sambil menatap sang perempuan yang semakin jauh.

Dia menunduk sambil berkata, "Ya, kau benar". Lalu dia melempar pandangan ke arah sang perempuan pergi. Ia sudah tak terlihat lagi.

No comments

Post a Comment

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)