Loading

Boleh Aku Memanggilmu.. Cinta?

Mendung masih saja enggan pergi di sore ini.
Di sudut kota, kita duduk berdua.
Di kursi tua, tempat dimana kita bertemu dulu.

Sudah hampir satu jam, kita hanya saling diam.
Hanya jilbab merahku yang bergerak-gerak mengikuti arah angin.
Tak ada yang bergerak antara bibir kita berdua.
Sunyi.
Namun hembusan angin tetap terasa.

"Fur.." ucapku pelan.
Kau tak menjawab, hanya saja aku tahu kau mengamatiku.
Aku menengok ke arahmu, ku dapati kau sedang mengamatiku.
Kita beradu pandang.
Kau tersenyum, manis, manis sekali.
Ada yang berdesir di hati, ada yang bergetar.
Kamu, tampak bersinar sore itu, dengan kemeja merahmu.
Tak sengaja, kemejamu dan jilbabku berwarna sepadan.
Merah, iya, itu warna favoritku.

Lagi-lagi, kita saling diam.

Saling memandang.

Diam.

Lalu tertunduk.

"Terkadang aku berfikir, untuk apa ada pertemuan jika harus ada perpisahan?" ucapmu.
Aku terdiam.
Mataku terasa panas. Ada yang tertahan di sudut mata.
"Setelah satu tahun, baru hari ini kita bertemu. Kenapa kau bicara tentang perpisahan?" jawabku.

Lagi-lagi kita terdiam.

Aku menghela napas.

Kenapa susah sekali mengatakan yang sebenarnya ingin dikatakan?

"Kau tahu, tak selamanya yang ada di hati, bisa terucap. Kadang yang harus kita fahami, adalah yang tersirat." katamu.
Aku tertegun.
Kau bisa membaca fikiranku? Tanyaku dalam hati.

Belum sempat aku menjawab, kau sudah berkata lagi.
"Kita tak pernah berjumpa dengan spasi ya? Selalu saja kilometer menghalangi" keluhmu.
"Aku tak pernah merasa kilometer menghalangi. Kau tahu, kadang aku merasa lebih dekat denganmu di sepertiga malam terakhir, melalui doa yang selalu ku ucap padaNya. Melalui Dia aku merasa dekat denganmu.. Aku merasa..."
Belum selesai aku bicara, kristal bening mulai menetes.

"Merasa bahwa semua yang terjadi adalah kehendakNya. Kita bertemu, kita dipisahkan, dan.." katamu.
"Kita dipertemukan kembali.." ucapku menyela.

Lagi-lagi kau tersenyum, lesung pipimu terlihat jelas.

Kau bisikkan sesuatu.

"Aku tak bisa berencana. Kita dipertemukan karenaNya. Aku mengenalmu karenaNya. Dan.. saat ini.. Aku ingin berkata.. Aku.. menyayangimu.. aku.. mencintaimu.. karena.. cintaku.. kepadaNya.."
Aku terdiam. Tertunduk.
Ada yang meletup-letup di hati, tak terduga.
Allah, inikah.. cinta? Tanyaku dalam hati.

Belum sempat aku menjawab. Kau sudah beranjak.
Dengan ransel hitam kau berdiri, berjalan menjauh dariku.
Aku berusaha mengejarmu. Tapi yang ku dapati hanya punggungmu.

"Furqooon..!" Aku mencoba berteriak.
"Boleh aku memanggilmu.. Cinta?" tanyaku dengan suara sedikit keras.
Kau menoleh ke arahku, kau tersenyum. Senyum khas dari rupa yang tak kan pernah ku lupa.
Ya, hanya tersenyum.

Hatiku berteriak. Memecah sunyi.
Memendam sedih
dan
tanda
tanya
yang
teramat
dalam.


5 comments:

  1. @Syifa Azz: Baju kali dek, digantung haha :p fiksi kok ini :)

    ReplyDelete
  2. @Andrie Whe: Kok hmm doang nih komentarnya? hehehe

    ReplyDelete
  3. wah.. endingnya tak ada komentar yah..

    hanya senyuman..

    itu artinya boleh atau tidak../?

    tapi.. memang bukan happy ending kayaknya...

    kayak cerita bersambung...

    ReplyDelete
  4. @arman rahim: Iya, tadinya emang sengaja dibikin gitu endingnya. Tapi ada beberapa temen ngasih saran buat bikin sequelnya hehe Insya Allah akan dibikin :)

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)