Loading

Pertemuan Pertama

Semua teman perempuan yang sedang duduk bersamaku, sibuk berkisah tentang pasangan masing-masing. Mulai dari kekasih yang suka menghilang tanpa kabar, sibuk dengan aktivitasnya sendiri, posesif, cemburuan, dsb. Tak satu hal pun ku dengar cerita penuh cinta dan kebahagiaan dari mulut mereka.

Oh, cukup! Aku mulai bosan. Berada pada satu kondisi dimana aku harus mendengarkan kisah tentang lelaki dan percintaan basi. Ku pikir, cinta tak hanya sekedar itu.

Sampai akhirnya, kisah para lelaki itu berganti dengan tas dan sepatu produksi terbaru, make up terbaru, sampai artis-artis tampan dengan badan kekar.

Kali ini, aku memlih untuk mencari pemandangan baru. Ku putar-putar kepalaku, ku arahkan mataku pada satu kerumunan. Ternyata akan ada jam session dan coaching clinic di coffee shop tempat kami itu. Syukurlah, aku tak harus mendengarkan celoteh teman-teman perempuanku ini tentang kekasih mereka dan barang-barang bermerk.

Mataku masih mencari-cari sesuatu di depan panggung kecil yang sudah disiapkan. Hingga akhirnya aku menemukan sepasang mata yang sayu dan saat itu, pandanganku tertuju pada satu orang.

Sesosok lelaki berambut agak gondrong dan sedikit bergelombang. Beberapa bagian rambutnya, dikucir di kepala bagian belakang, hingga bagian depan membentuk seperti poni. Dia juga memiliki sedikit jenggot di dagunya. Wajahnya tak putih tapi bersih. Senyumnya menawan, giginya rapi. Mataku hanya tertuju padanya. Dia, sesosok lelaki yang sedang bercengkerama bersama teman-temannya. Aku seperti tak mendengar lagi apapun yang diucap oleh teman-teman yang duduk di sekitarku.

Aku terdiam. Tersenyum melihatnya.

Terdiam lagi. Lalu tersenyum lagi.

"Boleh aku bertanya?"

Teman-teman perempuanku langsung terdiam dan saling pandang karena sedari tadi aku tak terlalu menyimak apa yang mereka bicarakan.

"Tentu, Nadila! Kau ingin bertanya apa? Kami tak sabar menjawabnya!"

"Tas baru? Sepatu keluaran terbaru? Atau lelaki-lelaki tampan berotot? Katakan saja pada kami, Nad!"

Aku masih tersenyum. Mataku masih tertuju pada lelaki yang sudah terduduk di belakang satu set drum dan dua stick di tangannya. Lelaki itu mulai menunjukkan basic rudiment dalam bermain drum. Dia memulainya dengan single stroke dan double stroke.

"Apa yang kalian percaya tentang pandangan pertama?", tanyaku.

Mereka terdiam.

"Kalian pernah merasakan freeze moment? Saat di mana kalian melihat atau bertemu seseorang, semuanya terasa berhenti, dan bahkan membuat matamu seperti tak ingin melepas pandangan dari arahnya? Kalian pernah?"

Semua diam.

Jantungku berdebar.

"Aku baru saja merasakannya", jawabku.

No comments

Post a Comment

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)