Loading

Bapak dan Anak Lelaki

Malam ini ketika bapak pulang, wajah yang mulai menua itu terlihat pucat. Bagaimana tidak, sebagian isi perutnya terdorong keluar begitu saja. Ya, vertigonya kumat.

Sungguh malam yang mengkhawatirkan setelah telepon dari bapak. Kendaraannya mogok di Mijen dan ia telah mendorong entah berapa meter jauhnya, sendiran. Lalu keringat dingin terus mengucur dari pori-pori kulitnya dan seperti biasa, disertai dengan nggliyengan karena vertigonya.

"Bapak gimana pulangnya?" Pesan singkat ku kirim padanya. Ibu mulai panik. Bayangannya sudah kemana-mana, ibu takut bapak opname lagi padahal belum genap dua bulan bapak keluar dari rumah sakit.

Sementara aku, anak perempuan terakhir yang sedang di rumah, tak punya cukup keberanian untuk mboncengin bapak yang bertubuh tambun itu. Ditambah pula jarak Mijen - rumah yang cukup jauh. Tadinya, hampir saja aku nekat berangkat karena sudah beberapa kali bapak menelpon pool taksi tapi masih saja kosong. Tapi setelah teringat beberapa kejadian kecelakaan akhir-akhir ini hingga merenggut maut, nyaliku pun menciut.

Sungguh, saat-saat seperti ini adalah saat dimana mulutku bergumam sendiri, "Seandainya aku anak lelaki..." Dan ketika itulah, ku dengar ibuku juga bergumam "Ngene ki enak yoo nek nduwe anak lanang.." (meski dalam pandanganku, maksud ibu adalah seorang menantu, tapi entahlah, aku juga tak tahu).

Ini bukan kali pertama aku berpikir demikian. Berpikir jika aku seorang anak lelaki di keluarga ini.

Dari kecil, secara tidak langsung bapak mengajariku melakukan kegiatan yang biasa dilakukan anak lelaki: menggergaji, memaku, memalu, memotong kayu, memanjat genting, angkat barang-barang berat, dll. Bapak juga yang mengenalkanku apa itu engsel, jenis paku, jenis kayu, dll ketika di toko bangunan. Ilmu dari seorang bapak.

Tapi sebenarnya bukan tentang itu, terkadang "Seandainya aku anak lelaki.." ini muncul begitu saja dalam logika yang dilebur dengan imajinasi yang melahirkan kebahagiaan ganjil. Mungkin, jika aku adalah anak lelaki, bapak tak perlu bingung mencari pengganti untuk menghadiri arisan RT atau kerja bakti di kampung. Sesekali, aku juga bisa menggantikannya sebagai imam masjid. Bisa juga melakukan cukur brewok berdua sambil beradu tawa di depan cermin di Jumuah pagi. Dan.. Seperti hal-hal yang terjadi malam ini. Aku bisa menjadi tangan kanan bapak sebagai wakil tulang punggung keluarga ini. Setidaknya, ada bahu cadangan sebagai sandaran untuk ibu dan embakku. Atau, aku bisa menemaninya melakukan banyak hal, banyak hal tanpa orang lain yang berkata "Kamu ki anak wedhok" seperti yang memang ku alami di masa ini. But, so what sih kalo aku sebagai perempuan juga melakukan beberapa hal yang menurut orang lain kelelakian? Aku sebagai anak, cuma mau bantu bapakku, itu saja.

Ah, aku hampir saja lupa. Sebelum aku lahir, ternyata bapak ibu sudah menyiapkan nama untukku: ERMANUDDIN BACHTIAR. Tapi..voila! Janin yang tinggal selama 9 bulan dalam perut ibu terlahir sebagai anak perempuan yang kini tumbuh menjadi gadis bernama Soviana Maulida Adipurawati!

Sebentar, bukan berarti aku tidak bersyukur atas kodratku sebagai perempuan, bukan. Tulisan ini tidak menyiratkan yang demikian. Tapi aku berpikir, bapakku kini semakin menua, kulitnya mulai keriput, tubuhnya melemah, sementara ia adalah tonggak utama dalam keluarga kecil ini, ia satu-satunya lelaki di rumah ini. Keluarga ini memang sudah tak tak bisa memiliki anak lelaki dari rahim ibuku, tapi keluarga ini..keluarga yang hangat ini sepertinya membutuhkan sosok lelaki lagi selain bapak, bukan pengganti karena bapak tak kan terganti. Tapi pelengkap, pelengkap dari perjuangan bapak ibu yang membesarkan dan mendidik dua anak perempuannya. Ah.. Benar begitukah?

4 comments:

  1. Mungkin emang butuh sosok lain sebagai pelengkap bapak, Sov. Mbak mu dan atau kamu to disegerakan aja.. Hehehehe biar bapak punya mantu. Punya tangan kanan buat njaga keluarga.. ;-)

    Tapi, setelah baca ini, aku malah jadi melow.. There's no man at my home. Just mom and my little sister *hihi jd curhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo.. Sepertinya begitu yaa xD

      Turut mendoakan, semoga Bunda dan adek selalu sehat, Ken :)

      Delete
    2. kamu duluan aja sov, mumpung aku masih di semarang. Biar bs tetep dtg ke resepsinya :P
      *ehhh melebar dari fokus hahaha

      Delete
    3. Eeeeehhh? Doakan yang terbaik aja ya, hahahaha xD

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya. Silakan tinggalkan komentarmu di sini :)